Created (c) by Princexells Seyka (Princelling Saki)
Tampilkan postingan dengan label info buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label info buku. Tampilkan semua postingan

Buku: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur | Kisah seorang Muslimah yang menjadi Pelacur

tuhan izinkan aku menjadi pelacur, kisah muslimah yang menjadi seorang pelacur
Tuhan, Izinkan Aku Menjadi pelacur!
Memoar Luka Seorang Muslimah.
Karya Muhidin M Dahlan
Buku yang sempat mengundang banyak perdebatan karena kata pelacur ini mengisahkan seorang mahasiswi alim yang juga mantan aktivis sebuah gerakan Islam dan cerdas. Kirani menjadi tokoh sentral dalam buku: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur, yang kemudian tertarik dan masuk menjadi anggota Jemaah, yaitu suatu organisasi rahasia yang bertujuan menegakkan syariat Islam dengan mendirikan negara Islam di Indonesia.

Kirani awalnya tinggal di Pondok Ki Ageng bersama seorang sahabatnya yang menjadi teman diskusi sekaligus tempat curhat. Di kampus, Kirani aktif dalam forum kajian yang membahas tentang masalah-masalah keislaman. Melihat kisah-kisah hidupnya, tak pernah terbayangkan jika muslimah ini akan terjebak dalam dunia free sex dan menjadi pelacur.

Dari forum inilah Kiran mengenal Mas Dahiri, sebuah perkenalan yang akan mengubah jalan hidup Kirani sama sekali. Bermula dari perkenalan inilah akhirnya Kiran bergabung dengan jamaah, setelah menjadi anggota Jemaah, mula-mula Kirani bersemangat melakukan dakwah dan menyumbangkan dana secara teratur dalam jumlah cukup besar.

Sosok Nidah Kirani digambarkan sebagai seorang muslimah yang taat, sangat jauh dari kesan seorang wanita pelacur. Tubuhnya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar. Kecintaannya pada agama membuat dia memilih untuk hidup yang sufistik. Dan keinginannya hanya satu yaitu menjadi muslimah yang beragama secara kaffah.

Tapi di tengah jalan ia diterpa badai kekecewaan. Organisasi garis keras yang mencita-citakan tegaknya syariat islam di Indonesia yang di idealkannya bisa mengantarkannya berislam secara kaffah ternyata malah merampas nalar kritis sekaligus imannya. Setiap tanya yang dia ajukan dijawab dengan dogma yang tertutup. Berkali-kali di gugatnya kondisi itu tapi hanya kehampaan yang hadir. Bahkan Tuhan yang selama ini dia agung-agungkan seperti “lari dari tanggung jawab” dan “emoh” menjawab keluhannya. Di titik ini, kisah Pelacurannya akan dimulai.

Dalam keadaan kosong itulah dia terjerembab dalam dunia hitam. Ia lampiaskan frustasinya dengan free sex dan mengkonsumsi obat-obat terlarang. “Aku hanya ingin Tuhan melihatku. Lihat aku Tuhan! Kan kutuntaskan pemberontakanku pada-Mu!” katanya setiap kali usai bercinta yang dilakukannya tanpa ada secuilpun rasa sesal bahwa tubuh yang tertutup busana muslimah digunakan untuk melacur.

Dari petualangan seksnya itu tersingkap topeng-topeng kemunafikan dari para aktivis yang meniduri dan ditidurinya – baik aktivis sayap kiri maupun sayap kanan (islam) – yang selama ini lantang meneriakkan tegaknya moralitas. Bahkan terkuak pula sisi gelap seorang dosen kampus Matahari terbit Yogyakarta yang bersedia menjadi germonya dalam dunia remang pelacuran yang ternyata anggota DPRD dari fraksi yang selama ini bersikukuh memperjuangkan tegaknya syariat islam di Indonesia.

Buku Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur ditulis dengan bahasa yang sederhana, ada beberapa pembaca yang kesulitan karena pada teks-teks awal, buku ini terasa berat. Namun sang penulis, Muhidin M. Dahlan tentu sangat piawai mengolah kata dan membangun alur cerita. Kisah-kisahnya berani dan tidak berbelit.
Description: Buku: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur | Kisah seorang Muslimah yang menjadi Pelacur Rating: 5.0 Reviewer: Admin ItemReviewed: Buku: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur | Kisah seorang Muslimah yang menjadi Pelacur

Buku Biografi Jokowi; Spirit Bantaran Kali Anyar

Sampul buku Jokowi
Sampul buku Jokowi
Buku berjudul Jokowi Spirit Bantaran Kali Anayar patut hadir di ruang baca anda, mempelajari bagaimana kehidupan sosok pemimpin satu ini sepertinya akan menyenangkan, mengistirahatkan kekesalan kita atas berita-berita yang memuat kebobrokan pemimpin bangsa, presiden yang jual citra dan tak berani bertindak tegas. Sosok yang lebih dikenal dengan Jokowi (Joko Widodo) patut untuk disimak.

Buku ini semacam sebuah biografi yang mengutip kehidupan pemimpin yang sederhana namun tegas ini. Riwayat Kehidupan Joko Widodo kecil adalah anak seorang "tukang kayu". Setelah Beliau lulus dari SMA, kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Setelah lulus kuliah tahun 1985, dirinya merantau ke Aceh dan bekerja di salah satu BUMN.

Kemudian Jokowi kembali ke Solo dan bekerja di Perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan, CV. Roda Jati. Setelah merasa cukup, pada tahun 1998, dirinya berhenti bekerja di CV tersebut dan memulai berbisnis sendiri bermodal dari pengalaman yang pernah ia miliki. Dengan kerja keras, ketekunan dan keuletan, akhirnya Jokowi berhasil mengembangkan bisnisnya dan menjadi seorang eksportir mebel.

Jokowi memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Walikota Solo dengan partai politik PDI Perjuangan sebagai kendaraan politiknya. Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui slogan Kota Solo yaitu "Solo: The Spirit of Java". Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa.

Langkah Jokowi berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran.

Sikap rendah hati Walikota solo ini tidaklah dibuat-buat. Bagi Masyarakat Solo, Jokowi adalah sosok pemimpin yang sangat peduli dengan kehidupan mereka. Di lorong pasar dan jalan-jalan di Kota Solo, Pak Jokowi sering sekali mengobrol dan mendengarkan keluh kesah rakyat tanpa jarak.

Pria berpostur kurus penyuka nasi kucing yang dulu tinggal di bantaran Kali Anyar ini sangat fenomenal. Perilakunya ngewongke wong - memanusiakan manusia - dan pengayom, membuatnya begitu dicintai oleh masyarakat Solo. Terbukti, setelah sukses memindahkan PKL berjumlah hampir 1000 orang tanpa kekerasan dan penggusuran, lebih dari 90 persen rakyat Solo memilihnya kembali untuk periode kedua.

Menyebut nama Jokowi berarti menyebut nama seorang tokoh pemimpin masa depan yang paling dibutuhkan orang di Republik ini. Tak hanya dari kacamata ketatanegaraan tetapi dari perikehidupan sederhananya itulah yang menjadikannya sebagai harapan terutama di masa sulit seperti saat ini.

Jokowi mengaku bodoh, mengaku tak punya tampang, mengaku tak pantas menjadi pemimpin, dan Jokowi mengaku ini dan itu. Tetapi, dialah orang yang melakukan hal-hal yang tidak umum dilakukan oleh para pemimpin kita, mulai dari tingkat RT hingga Presiden. Buku Jokowi ini menjadi informasi berharga tersendiri di tengah sikap Jokowi yang kerap tidak mau publikasi.

Buku ini pula memotivasi segala lapisan masyarakat: Pertama, bahwa harapan itu masih ada. Kedua, siapa pun para pemimpin itu layak menimba ilmu kepada Jokowi untuk melakukan perubahan penting.

Selamat berburu bukunya dan menikmati :D
Description: Buku Biografi Jokowi; Spirit Bantaran Kali Anyar Rating: 5.0 Reviewer: Admin ItemReviewed: Buku Biografi Jokowi; Spirit Bantaran Kali Anyar

Jerome Becomes A Genius; Mengungkap Kecerdasan Orang Yahudi

Buku Jerome Becomes A Genius
Buku berjudul Jerome Becomes A Genius yang diterbitkan oleh Ufuk Publishing House adalah sebuah buku karangan Eran Katz, Pemegang Guinness Book of World Record for Memory Stunts. Ini adalah buku yang berisi cara belajar orang Yahudi. Sebagaimana kita ketahui bahwa etnis minoritas Yahudilah yang justru mampu menguasai dunia.

Stereotip yang mengatakan bahwa orang Yahudi memiliki otak cerdas begitu lekat sampai sekarang. Baik yang berkonotasi negatif dengan mengasosiasikan mereka sebagai orang yang licik, penipu, dan menakutkan. Maupun yang berkonotasi positif, dalam arti mereka memiliki otak yang brilian.

Pada tahun 2000, populasi Yahudi di dunia hanya berjumlah 13 juta orang atau hanya 0,25% dari enam miliar penduduk dunia. Sebagai ilustrasi saja, dari sekitar 270 tokoh penerima hadiah Nobel yang diberikan sejak 1901, 102 orang adalah tokoh Yahudi. Apa pun itu, fakta kecil ini cukup mengejutkan. Bukan untuk memuji, apalagi mengagungkan, namun kenyataan ini menarik untuk diungkap. Bagaimana orang Yahudi bisa dikonotasikan sebagai bangsa yang cerdas.

Buku ini sejenis novel. Dalam bab awal, buku ini diawali oleh sebuah tanda tanya besar terkait stereotype yang melekat di bangsa Yahudi. Stereotype yang mengatakan bahwa bangsa Yahudi memang terlahirkan oleh Tuhan menjadi bangsa yang cerdas. Eran, penulis, benar-benar tertantang untuk membuktikan pernyataan itu, karena tidak sedikit juga bangsa Yahudi yang kemampuan berpikirnya di bawah rata-rata yang Ia temukan. Baginya setiap agama adalah sama, tidak perlu ada yang diunggulkan. Di agama Islam, Nasrani, Budha pun kita dapat melihat para tokoh yang amat cerdas juga.

Di sinilah kisah petualangan nyata di mulai. Eran, Itamar, dan Jerome berpetualang mencari rahasia kecerdasan orang Yahudi. Yang selanjutnya rahasia-rahasia tersebut diterapkan ke Jerome yang memiliki kecerdasaran ‘datar’ agar menjadi jenius. Dalam petualangan menguak kecerdasan kaum Yahudi inilah yang menjadikannya menarik, setiap perjalanan akan menemukan rahasia-rahasia belajar yang dapat membantuk kita dalam proses belajar.

Buku ini di susun dengan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami dan akan membuat kita tak mau berhenti dalam membaca. Kita akan menemukan trik-trik kecerdasan orang Yahudi, sembari juga akan di paparkan informasi detail kehidupan orang Yahudi, kebiasaan, dan sejarah. Tak hanya itu, dengan membaca buku ini kita akan mampu membayangkan kondisi negara dan masyarakat di negara-negara benua eropa dan Israel yang menjadi latar di buku ini.

Rahasia kecerdasan otak orang Yahudi dikupas dalam buku Jerome Becomes A Genius, Mengungkap Rahasia Kecerdasan Orang Yahudi karya Eran Katz. Buku setebal 442 halaman yang diterbitkan Ufuk Publishing House membedah secara detail, mulai dari sejarah, kebiasaan-kebiasaan positif, dan mengembangkan menggunakan otak, sehingga membuat orang Yahudi menjadi cerdas.

Mereka pun memiliki prinsip dalam kondisi susah dan miskin, anak-anak mereka harus tetap belajar dan sekolah. Bahkan mereka memilih lebih baik tidak makan daripada tidak membaca buku dan sekolah. Jadi tak usah heran bila di pedesaan miskin (Ghetto) di Israel, setiap anak selalu memiliki, minimal sebuah buku bacaan.

Guru-guru yang mengajarkan pelajaran kepada anak-anak akan menerima imbalan yang luar biasa. Bahkan bila guru itu tak mau menerima bayaran, mereka akan mendapat penghormatan melebihi hormatnya seorang anak kepada orangtua. Bangsa Yahudi menyadari bahasa Ibrani bukan bahasa yang komunikatif dan tak seindah bahasa Arab, makanya mereka mengembangkan teknik khusus menguasai berbagai bahasa asing.

Karena itu, dalam satu bulan seorang Yahudi bisa menguasai sebuah bahasa asing secara sederhana. Hal itu membuat banyak orang Yahudi bisa cepat berbaur di berbagai belahan dunia, mulai dari Eropa, Amerika Serikat, sampai ke Amerika Latin dan sejumlah negara Arab.


Judul : Jerome Become A Genius,
Penulis : Eran Katz,
Penerbit : Ufuk Publishing House,
Tebal : 442 Halaman, Terbit : Oktober 2009


Selamat berburu !!!
Description: Jerome Becomes A Genius; Mengungkap Kecerdasan Orang Yahudi Rating: 5.0 Reviewer: Admin ItemReviewed: Jerome Becomes A Genius; Mengungkap Kecerdasan Orang Yahudi

Buku Burung-burung Cakrawala Karya Mochtar Pabottingi

Burung burung Cakrawala
Sampul buku Burung burung Cakrawala
Apa kabar para tukan download ebook gratis, sudah lama sekali blog ini tidak diupdate. Kali ini kami hanya ingin berbagi informasi tentang sebuah buku yang tentunya wajib anda miliki. Buku berjudul Burung-burung Cakrawala yang ditulis oleh Mochtar Pabottingi.

Buku Burung-burung Cakrawala ini terbilang segar karena baru saja terbit pada tanggal 17 Januari lalu. Beberapa hari setelah terbit, buku ini kemudian banyak direkomendasikan sebaai bacaan segar oleh tokoh-tokoh yang populer.

Buku setebal 400 halaman ini mengisahkan Kisah sejati yang merupakan kesaksian kaya, hidup, dan orisinal tentang apa arti dan fungsi Tanah Air serta kemerdekaan bagi seorang anak desa. Seperti sejumlah anak serupa, dia kemudian bertumbuh menjadi manusia yang jiwa dan badannya terbangun mengikuti citra diri dan impian Para Pendiri Bangsa-deretan eksemplar burung–burung pelintas benua, penjelajah cakrawala.

Sebagai narasi diri, ini adalah rekaman tangan pertama si anak desa tentang bagaimana dia menjadi sembari sekaligus memotret masyarakat bangsanya dan masyarakat mancanegara lewat kota-kota di mana dia berkiprah selama tiga zaman. Di saat terbang lintas benua menjelajah lapis-lapis cakrawala, dia pun bercinta serta bersaksi cerdas tentang masa dan dunianya, tentang impian-impian pribadi dan ideal-ideal berbangsa yang terus dijunjungnya. “Indonesia tak pernah bisa dipisahkan dari ketercerahan cakrawala.”

“Ada irama yang indah dari penulisan buku ini, yang membuat saya tidak ingin berhenti membuka halaman demi halaman di dalamnya. Saya menemukan cerita jenaka orang kampung Indonesia. Juga terperangah akan kecerdasan buah-buah pikiran serta tingginya integritas penulisnya sebagai seorang intelektual.”
—Riri Riza, sutradara film

Selamat berburu !! ;)
Description: Buku Burung-burung Cakrawala Karya Mochtar Pabottingi Rating: 5.0 Reviewer: Admin ItemReviewed: Buku Burung-burung Cakrawala Karya Mochtar Pabottingi

Buku Sejarah Sosial Media Oleh Asa Briggs

Info Buku Buku Sejarah Sosial Media

Sejarah Sosial Media; Dari Gutenberg sampai Internet
Buku ini menyoroti peradaban barat modern, mulai dari akhir abad ke-15 hingga millenium ketiga ini. Penulis buku ini berpendapat bahwa, adalah penting orang yang bergumul dalam studi ilmu komunikasi dan budaya yang jumlahnya akan terus bertambah untuk memperlakukan sejarah dengan serius, sebagaimana para pakar sejarah terlepas dari periode dan bidang spesialisasi mereka, memperlakukan komunikasi (termasuk ilmu komunikasi) dengan serius pula. Ruang lingkup buku ini luas sekali, menelusuri sejarah beragam alat komunikasi di Barat, mulai dari ditemukannya percetakan, telepon, telegraf, gramofon, radio, film, TV, sampai kepada internet. Ia membicarakan setiap unsur yang merupakan unsur pokok dari apa yang terkenal sebagai 'media' dan mendiskusikan, antara lain, tetap pentingnya komunikasi lisan dan manuskrip, setelah timbulnya percetakan, dan hubungan antara transportasi fisik dan komunikasi sosial, serta perkembangan media elektronik, yang bermuara pada teknologi komunikasi digital, internet, dan gejala globalisasi.

Dimensi : 24 x 16 cm
Jenis Cover : soft cover
Berat Buku : 700
Jenis Kertas : HVS

Berminat untuk membaca bukunya?
Silahkan BACA BUKU disini!
Description: Buku Sejarah Sosial Media Oleh Asa Briggs Rating: 5.0 Reviewer: Admin ItemReviewed: Buku Sejarah Sosial Media Oleh Asa Briggs

Resensi Buku Jurnalisme dan Politik di Indonesia karya David T. Hill

Jurnalisme dan Politik di Indonesia
Mochtar Lubis adalah ikon pers Indonesia. Keberaniannya mengritik penguasa terus menjadi buah bibir hingga kini. Karena kritikan tersebut, pemerintah acap kali merasa jengah. Buntutnya, Mochtar dijebloskan ke penjara.

Buku ini tampaknya ingin memperlihatkan bagaimana sepak terjang Mochtar Lubis di jagat pers dan kaitannya dengan dinamika politik nasional. Tidak hanya karena posisinya sebagai pemimpin Indonesia Raya yang bertiras besar dan berpengaruh, namun karena Mochtar memiliki garis moral perjuangan yang sulit digeser, yang tercermin lewat gaya jurnalistiknya.

Garis moral tersebut kira-kira, selalu kritis terhadap kecenderungan negatif penguasa seperti korupsi, penyalahgunaan wewenang, penyelewengan jabatan, serta kemerosotan moral pemangku kekuasaan.

Ketika Presiden Soekarno menikahi Hartini misalnya, Indonesia Raya jelas-jelas mengritiknya. Bahkan Mochtar terang-terangan menyerang Soekarno (Hal. 57). Soekarno pun gerah dengan "ulah" Mochtar tersebut.

Krtik keras Mochtar tak berhenti di situ, melainkan juga ketika Konferensi Asia-Afrika berlangsung pada tahun 1955. Saat itu ia mengritik panita "keramahtamahan" yang "menyediakan" perempuan untuk menyenangkan para delegasi.

Ketika Indonesia Raya berada di Orde Baru, orientasi perlawanannya tidak berubah. Meskipun pada awalnya harian ini mendukung garis kebijakan Suharto, namun ia tetap kritis. Misalnya saja kritik kasus korupsi Pertamina oleh Ibno Sutowo yang memiliki kedekatan dengan Presiden Suharto.

Namun, sikap keras Mochtar Lubis tidak selalu menuai pujian dari orang-orang yang mendukung perjuangannya. Sebaliknya, ia memperoleh kritik. Keberpihakannya membuat pemberitaannya menjadi tidak seimbang.

Pernyataan antikomunis di Indonesia Raya misalnya, selalu memperoleh ruang yang besar. Sebaliknya, pemberitaan atau statement yang mendukung komunis, selalu memperoleh porsi yang lebih sedikit.

Bahkan pada peristiwa berikutnya, Mochtar Lubis menolak penyelenggaraan Pekan Film Rusia pada tahun 1969. Soe Hok Gie mengritik hal ini. Soe Hok Gie menuduh Mochtar sebagai orang yang berpandangan sempit sekaligus seorang pelacur intelektual.

Selain itu, buku ini juga menyinggu Mochtar Lubis sebagai seorang sastrawan. Protesnya terhadap pemerintah, deskripsi sebuah situasi moral, ataupun eksplanasi kondisi saat menjalankan tugas jurnalistik, ia ungkapkan lewat karya-karya sastranya.

Ini yang membuat Mochtar Lubis menonjol sebagai sastrawan. Sejumlah pengakuan internasional ia peroleh karena karya-karya sastranya tersebut. Kepiawainnya tidak hanya teruji di bidang jurnalistik, namun juga di dunia kepengarangan.

Sebagai sebuah biografi kritis, buku ini memberikan perspektif yang lebih luas mengenai Mochtar Lubis. David T Hill tidak berpretensi memuji-muji Mochtar, namun juga memperlihatkan sisi manusiawi Mochtar. Pada buku ini Mochtar beberapa kali digambarjan sebagai sosok yang dapat juga meletupkan kebencian, kesumat, hingga kekeraskepalaan.

Info Buku:
Judul : Jurnalisme dan Politik di Indonesia
Penulis : David T Hill
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Terbit : I, Agustus 2011
Tebal : 362 halaman
Harga : Rp. 75.000
Description: Resensi Buku Jurnalisme dan Politik di Indonesia karya David T. Hill Rating: 5.0 Reviewer: Admin ItemReviewed: Resensi Buku Jurnalisme dan Politik di Indonesia karya David T. Hill

Resensi Buku Pram Melawan!

Pram Melawan! : Dari Perkara Sex, Lekra, PKI, sampai Proses Kreatif

Siapa yang tak kenal dengan Pramoedya Ananta Toer, seorang tokoh yang memang kontroversial hingga akhir hayatnya. Sosok Pramoedya sulit ditangkap secara utuh. Kecurigaan serta stigma "kiri" atau "komunis" yang melekat padanya, semakin membuat tokoh yang diwacanakan sebagai penerima hadiah Nobel untuk bidang sastra itu, terlupakan.

Padahal menjelang akhir hayatnya, sejumah karyanya mengalami cetak ulang. Di sejumlah forum, karyanya tidak pernah sepi dibicarakan dan diapresiasi. Bahkan tidak sedikit remaja mulai tergila-gila dengan karya Pramodya.

Oleh sebab itu, terbitnya buku Pram Melawan!, merupakan sebuah titik pijakan baru yang dapat mengantarkan para peminat karya Pram (demikian panggilan pendek Pramoedya), pemerhati sejarah, maupun peneliti sastra menuju pemahaman semesta Pramoedya secara lebih lengkap.

Buku Pram Melawan merupakan kumpulan sejumlah wawancara yang dilakukan oleh penyusunnya dengan Pram. Topiknya beragam, dari soal politik, sastra, kebudayaan, keluarga, sosial hingga pengalaman pribadinya ketika dibuang ke pulau Buru.

Dari sinilah pembaca dapat melihat banyak sisi lain dari Pram. Ia seakan ingin orang mengetahui duduk persoalan masa lalunya secara jernih terkait dengan kekuasaan. Ia juga ingin meluruskan siapa yang sebenanya layak disebut sebagai orang yang merampas kebebasan orang lain.

Sementara itu, untuk pihak-pihak yang berseberangan dengannya di masa lalu, Pram seakan ingin mereka melihat alasan-alasan mengapa lelaki pendukung Soekarno itu melakukan sesuatu yang dianggap keliru.

Salah satu pertanyaan yang sering mengusik tentang Pram adalah, apakah ia seorang anggota Partai Komunis Indonesia ketika itu? Ia menjawab, anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) tidak otomatis menjadi anggota PKI.

Bagi Pram, Lekra adalah kiri. Namun, kiri tidak berarti komunis. Kiri adalah orang yang tertindas dan tersingkirkan. Golongan seperti inilah yang harus dibela. Merekalah yang harus dimanusiakan. Jadi, keliru jika golongan ini yang harus diperlakukan tidak adil.

Itu juga yang menjadi roh dalam realisme sosial di dalam sastra. Mereka yang tertindas harus dibebaskan, diberi kesadaran. Jadi, realisme sosial akan tetap relevan hingga kapan pun selama rakyat yang tertindas masih ada.

Hal menarik lain yang diungkapkan oleh Pram adalah permusuhan Lekra dengan Manikebu. Menurut pengakuannya, Pram memang melawan orang-orang golongan Manikebu. Alasannya, ia hanya berusaha mencegah demokrasi liberal ala Barat dan melawan orang-orang yang anti terhadap Soekarno.

Menariknya, dalam wawancara yang dilakukan, Pram selalu berbicara terbuka, tanpa tedeng aling-aling. Seluruh gelora emosi, kekesalan, serta kekecewaannya, tertumpah tanpa beban dalam buku ini.

Buku ini bagaikan sebuah medium bagi Pram untuk menunjukkan realitas dirinya. Sebuah realitas yang berkorespondensi dengan berbagai gejala yang ada di sekitarnya. Realitas ini bagi Pram bukan hanya sesuatu yang hadir dari bawah alam sadar, namun juga sesuatu yang terinternalisasi dari lingkungan.

Kita tungu saja apakah akan ada yang menjawab isi buku ini. Jika pun ada, semoga itu diletakkan dalam keranga sejarah kebudayaan dan kesenian, bukan politik yang tidak berujung.

Info Buku;
Judul : Pram Melawan! : Dari Perkara Sex, Lekra, PKI, sampai Proses Kreatif
Penyusun : P Hasudungan Sirait, dkk.
Penerbit : Nalar
Terbit : I, 2011
Halaman : xxxviii + 502 Halaman
Harga : Rp. 135.000
Description: Resensi Buku Pram Melawan! Rating: 5.0 Reviewer: Admin ItemReviewed: Resensi Buku Pram Melawan!

Resensi Buku Wajah Terakhir - Antologi Cerita Pendek Mona Sylviana

Kumpulan cerita Wajah Terakhir

Dalam kumpulan cerpen Wajah Terakhir, Mona Sylviana menampilkan sebuah perlawanan dengan dengan sudut pandang marjinalisasi perempuan pada titik paling inti dan eksterm, yakni penderitaan perempuan lewat deskripsi-deskripsi yang menghenyakkan. Di sini perempuan tidak muncul sebagai sosok yang menggapai-gapai kesetaraan dengan laki-laki, namun membiarkannya tampil sebagai sosok yang menderita.

Membaca cerpen-cerpen dalam buku ini, pembaca akan ikut merasakan luka-luka yang dialami perempuan akibat marjinalisasi tersebut. Pembaca diajak untuk memberikan makna lain sebuah penderitaan. Seperti pada cerpen Mata Andin. Lewat mata seorang anak perempuan, pembaca ditarik untuk melihat penderitaan tokoh ibu tanpa meghadirkan keluhan-keluhan kemisikinan yang melankolis.

Kemiskinan seolah-olah bukan persoalan pokok oleh istri yang disia-siakan oleh suaminya, namun ia punya solusi untuk mempertahankan hidupnya, dengan menjual ginjalnya. Dalam cerpen ini, perempuan tidak digambarkan sebagai sosok yang mempertimbangkan ini-itu, namun memiliki penyelesaian konkret. Keputusan menjual ginjal tersebut ia eksekusi tidak beda dengan ketika ia menjual perabotan rumah.

Lihat juga cerpen Ba(o)rok. Dalam cerpen ini perempuan yang menjadi korban perkosaan seakan menjadi sosok yang tidak berharga di mata calon suaminya. Seakan sang calon suami adalah seseorang yang paling suci hingga memiliki hak untuk meninggalkan perempuan yang akan dinikahinya.

Tokoh Barok dalam cerpen Ba(o)rok, si pemerkosa, mencoba menghindar dari tanggung jawab. Anak hasil pemerkosaan itu mendesak sang ibu untuk meminta pertanggungjawaban dari sang ayah biologis. Namun sang ibu menolak. Si anak berinisiatif mencari Barok. Namun di ujung cerita, si anaklah yang tidur bersama Barok.

Hal lain yang unik dari cerpen-cerpen Mona adalah kejutan-kejutan yang ia sampaikan di belakang cerita. Awal cerita yang lambat karena memang tidak langsung menuju inti persolan, diakhiri dengan kejutan yang mengguncangkan.

Sebut saja pada cerpen Wajah Terakhir. Pada cerpen ini at, tokoh Maria--korban pemerkosaan etnis minoritas--berkesempatan menjadi penerjemah seorang pasien kanker stadium empat. Maria tahu, pasien itu adalah ayah dari lelaki yang pernah memerkosanya.

Kelebihan lain dari cerpen-cerpen Mona ialah penggambaran yang detil lewat pemilihan diksi yang begitu selektif. Ini membuat pembaca benar-benar terlibat dalam situasi-situasi yang digambarkannya.


Info Buku;
Judul : Wajah Terakhir
Penulis : Mona Sylviana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : I, Agustus 2011
Tebal : 143 halaman
Harga : Rp. 35.000
Description: Resensi Buku Wajah Terakhir - Antologi Cerita Pendek Mona Sylviana Rating: 5.0 Reviewer: Admin ItemReviewed: Resensi Buku Wajah Terakhir - Antologi Cerita Pendek Mona Sylviana

Kretek Jawa, Gaya Hidup Lintas Budaya

Info Buku : Kretek Jawa, Gaya Hidup Lintas Budaya
Judul: Kretek Jawa, Gaya Hidup Lintas Budaya
Penulis: Rudy Badil
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Halaman: xxvii + 171 halaman
Terbit: Agustus 2011
Harga soft cover: Rp. 175.000
Harga hard cover : Rp. 255.000
Description: Kretek Jawa, Gaya Hidup Lintas Budaya Rating: 5.0 Reviewer: Admin ItemReviewed: Kretek Jawa, Gaya Hidup Lintas Budaya

Buku Dibawah Bendera Revolusi Terbitan 2004

Dibawah Bendera Revolusi
Sampul buku Dibawah Bendera Revolusi
Buku Di Bawah Bendera Revolusi yang menghimpun tulisan-tulisan Bung Karno di masa penjajahan Belanda, pertama kali diterbitkan pada tahun 1959 oleh sebuah Panitia Penerbitan di bawah pimpinan H. Mualliff Nasution. Pada tahun 1963 buku monumental itu mengalami cetak ulang, yang hanya dalam waktu dua minggu sudah habis terjual. Tidak mengherankan setelah itu pencetakan kembali dilakukan setiap tahun. Terakhir kali, tahun 1965 buku itu untuk keempat kalinya dicetak ulang. Ini menunjukkan bahwa keinginan rakyat Indonesia untuk memiliki buku itu sangat besar.

Sejak berdiri pada tahun 1978, Yayasan Bung Karno mendapat banyak permintaan dari berbagai kalangan masyarakat agar mencetak ulang buku-buku karya Bung Karno, terutama DBR. Karena berbagai kendala, rencana mencetak ulang tidak kunjung terlaksana. Bahkan pada saat diselenggarakan peringatan 100 tahun Bung Karno, keinginan itu belum terwujud.

Baru pada tahun 2004, persiapan cetak ulang buku tersebut dilakukan. Agar generasi muda dapat memahami pemikiran Bung Karno, diputuskan cetak ulang tersebut memakai ejaan baru. Tetapi perubahan ejaan itu diupayakan tidak menghilangkan gaya penulisan Bung Karno serta semangat zaman yang terdapat dalam tulisan itu. Suatu pekerjaan yang tidak mudah, tetapi syukurlah penerbit mendapat bantuan yang tulus dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Menyesuaikan dengan arahan Pusat Bahasa, perubahan ejaan itu tidak mengikuti seluruh kaidah EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Yang diganti hanya “dj” menjadi “j”; “tj” menjadi “c” dan “j” menjadi “y”, dsb.

Di pihak lain istilah-istilah yang merupakan produk dari zamannya, tetap dipertahankan. Jadi istilah-istilah seperti “haibat”, “syaitan”, “fatsal”, maupun “zonder” tidak diubah, tetap seperti lazimnya penulisan pada sebelum Perang Dunia II.

Demikian juga penulisan kata-kata seperti “faham”; “fikiran”; “azas” atau “perjoangan” dipertahankan seperti sebelum berlaku EYD, tidak mengikuti kelaziman saat ini.

Sesuai dengan ketentuan EYD, kata-kata atau istilah asing ditulis miring (italic), sementara kata-kata yang pada edisi lama ditulis jarang sebagai tanda penekanan, pada edisi ini ditulis tebal (bold).

Dibanding dengan edisi terdahulu, secara substansial tidak ada perubahan dalam mater isi buku. Hanya ada dua tulisan tambahan untuk melengkapi sosok Bung Karno, bagi generasi muda yang belum banyak mengenalnya. Yang pertama mengenai riwayat hidup Bung Karno. Yang kedua, kupasan dari sejarawan, Dr. Asvi Warman Adam, berupa telaah kritis terhadap tulisan-tulisan Bung Karno yang dimuat dalam buku ini. Dan buku ini dapat dicetak ulang karena peran serta Badan Pengelola Gelora Bung Karno.

Baca Resensi Buku ini disini.
Description: Buku Dibawah Bendera Revolusi Terbitan 2004 Rating: 5.0 Reviewer: Admin ItemReviewed: Buku Dibawah Bendera Revolusi Terbitan 2004

Percakapan dengan Sidney Hook

percakapan dengan sidney hook
Dalam kehidupan kita sebagai suatu masyarakat, masyarakat Indonesia, kita menghadapi berbagai masalah yang memerlukan pemikiran filsafat. Buku yang berjudul Percakapan dengan Sidney Hook yang disajikan kepada pembaca sekarang ini merupakan suatu usaha untuk mengemukakan berbagai pemikiran berhubungan dengan beberapa masalah filsafah yang menurut hemat kami, baik diperhatikan. Kami telah memilih empat masalah besar yang dijadikan sasaran perhatian dalam suatu pembicaraan.

Info Buku:
Judul : Percakapan dengan Sidney Hook; tentang 4 masalah filsafat.
Penulis : Harsja W. Bachtiar
Tahun terbit : 1986
Penerbit : Djambatan
Halaman : 232

Description: Percakapan dengan Sidney Hook Rating: 5.0 Reviewer: Admin ItemReviewed: Percakapan dengan Sidney Hook